Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Opini
  3. Detail Opini
Kartini dan Salah Kaprah Emansipasi Perempuan Hari Ini

Kartini dan Salah Kaprah Emansipasi Perempuan Hari Ini

Setiap 21 April, nama Kartini kembali dipanggil dengan penuh semangat. Sekolah-sekolah mengadakan peringatan, media sosial dipenuhi ucapan tentang emansipasi, dan publik seakan sepakat bahwa Kartini adalah simbol kemajuan perempuan Indonesia. Namun, di tengah kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara sungguh-sungguh: benarkah kita sedang memahami Kartini dengan tepat, atau justru sedang membaca Kartini dengan kacamata zaman yang tidak sepenuhnya sejalan dengan semangat perjuangannya?

Kartini layak dikenang sebagai pelopor pendidikan dan martabat perempuan. Namun, namanya tidak tepat dipakai untuk membenarkan gagasan bahwa perempuan baru dianggap berdaya ketika sepenuhnya lepas dari rumah, sibuk di ruang publik, dan menyerahkan pengasuhan anak kepada lembaga. Semangat Kartini adalah memuliakan perempuan melalui ilmu, bukan menjauhkannya dari fitrah pengasuhan dan peran pentingnya dalam keluarga.

Di sinilah letak salah kaprah yang sering muncul dalam pemaknaan modern atas nama emansipasi. Hari ini, perempuan kerap dipuji terutama ketika ia terlihat sangat produktif di luar rumah, memiliki prestasi profesional, mandiri secara ekonomi, dan aktif dalam berbagai ruang publik. Semua itu tentu bukan sesuatu yang salah. Perempuan berhak belajar tinggi, berkarya, berkontribusi, dan mengambil peran sosial yang luas. Masalahnya muncul ketika seluruh makna keberdayaan perempuan dipersempit hanya pada ukuran-ukuran tersebut. Akibatnya, perempuan yang memilih lebih hadir untuk anak-anaknya, lebih banyak mengurus rumah, atau menempatkan keluarga sebagai prioritas utama justru kadang dipandang kurang maju, kurang mandiri, atau bahkan dianggap tidak cukup berdaya.

Padahal, kalau kita jujur, ukuran seperti itu sangat miskin secara kemanusiaan. Mengapa keberdayaan perempuan harus selalu diukur dari sejauh mana ia meniru ritme hidup laki-laki modern yang sepenuhnya terserap oleh logika kerja, karier, dan pencapaian publik? Mengapa perempuan yang melahirkan, menyusui, mendampingi tumbuh kembang anak, membangun kehangatan rumah, dan menjadi penyangga emosional keluarga sering tidak mendapat penghormatan yang setara? Bukankah itu juga kerja besar, kerja yang tidak terekspos tapi sebenarnya justru menjadi fondasi bagi lahirnya generasi yang sehat jiwa dan akalnya?

Di titik ini, penting untuk memahami ulang Kartini secara lebih jernih. Kartini memperjuangkan pendidikan perempuan bukan agar perempuan tercerabut dari rumah, melainkan agar perempuan keluar dari kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakadilan. Ia menginginkan perempuan yang berpikir, perempuan yang memiliki akal budi, perempuan yang dihormati martabatnya. Pendidikan, dalam semangat Kartini, bukan proyek untuk memutus perempuan dari keluarga, tetapi justru jalan untuk memuliakan peran perempuan di dalam keluarga dan masyarakat. Perempuan yang berilmu akan menjadi pendidik generasi yang lebih baik, penopang moral yang lebih kokoh, dan pribadi yang lebih mampu mengambil keputusan dengan bijaksana.

Karena itu, sangat tergesa-gesa jika nama Kartini dipakai untuk mengesahkan seluruh agenda feminisme modern, terutama yang menjadikan kebebasan individual sebagai ukuran tertinggi. Tidak semua yang mengatasnamakan pembebasan benar-benar memuliakan perempuan. Ada “kebebasan” yang pada akhirnya justru melahirkan bentuk penindasan baru. Perempuan didorong untuk sukses di dunia kerja, tetapi tetap dituntut sempurna di rumah. Ia harus berprestasi, berpenghasilan, berpenampilan baik, mengurus rumah tangga, mendidik anak, menjaga relasi, dan tetap terlihat kuat. Atas nama emansipasi, perempuan justru memikul beban ganda, bahkan beban berlapis. Dalam situasi seperti ini, kita patut bertanya: apakah ini benar-benar pembebasan, atau hanya perpindahan bentuk tekanan?

Lebih jauh lagi, salah satu gejala yang patut dikritisi adalah anggapan bahwa semakin cepat anak diserahkan kepada institusi, maka semakin modernlah keluarga itu. Tempat penitipan, sekolah fullday, dan beragam lembaga pengasuhan memang bisa menjadi kebutuhan dalam kondisi tertentu. Tidak semua keluarga memiliki pilihan yang sama, dan tidak adil menyederhanakan kenyataan hidup setiap ibu. Namun, yang perlu dipersoalkan adalah ketika pola itu tidak lagi dilihat sebagai pilihan yang kadang terpaksa, melainkan dinaikkan menjadi norma ideal. Seolah-olah anak yang lebih banyak bersama lembaga daripada bersama orang tuanya adalah tanda kemajuan, dan ibu yang banyak hadir dalam keseharian anak justru dianggap kurang produktif.

Padahal, anak tidak hanya membutuhkan fasilitas, kurikulum, dan pengawasan. Anak membutuhkan kehadiran. Anak membutuhkan percakapan yang hangat, tatapan yang utuh, pelukan yang menenangkan, dan ruang untuk bercerita tanpa tergesa. Anak membutuhkan orang tua, terutama ibu, bukan hanya sebagai pengelola jadwal hidupnya, tetapi sebagai rumah batin tempat ia pulang. Kehadiran semacam ini tidak bisa seluruhnya digantikan oleh institusi mana pun, sebaik apa pun sistemnya. Jika masyarakat modern terlalu memuliakan capaian publik namun meremehkan kehadiran emosional dalam keluarga, maka sesungguhnya ada yang sedang rusak dalam cara kita menilai makna sukses.

Salah kaprah lain dalam memaknai emansipasi adalah ketika kebebasan perempuan diterjemahkan sebagai kebebasan tanpa batas dalam berperilaku dan berpakaian. Dalam sebagian wacana populer, perempuan dianggap makin merdeka ketika makin berani menampilkan tubuhnya, makin lepas dari norma kepantasan, dan makin bebas menabrak batas-batas moral atas nama ekspresi diri. Padahal, kebebasan semacam ini justru patut dipertanyakan. Sebab tidak setiap yang disebut kebebasan benar-benar memuliakan. Ada bentuk “kebebasan” yang sesungguhnya hanya memindahkan perempuan dari satu bentuk pengekangan ke bentuk lain, dari yang semula ditekan oleh budaya, lalu dieksploitasi oleh pasar, industri hiburan, dan pandangan hidup yang menilai tubuh perempuan sebagai komoditas, tontonan, atau alat validasi sosial.

Sulit membayangkan Kartini memperjuangkan pendidikan perempuan agar pada akhirnya perempuan dinilai dari sejauh mana ia berani membuka diri di hadapan publik, bukan dari keluasan ilmunya, kejernihan pikirannya, dan kemuliaan akhlaknya. Semangat Kartini adalah mengangkat derajat perempuan sebagai manusia yang berpikir dan bermartabat. Karena itu, menjadikan perilaku vulgar, gaya hidup permisif, atau pakaian yang menanggalkan kepantasan sebagai simbol emansipasi justru bertentangan dengan inti perjuangan tersebut. Perempuan tidak menjadi mulia karena tubuhnya dipertontonkan, tetapi karena kehormatannya dijaga dan kemanusiaannya dihargai. Dalam konteks ini, yang perlu dibedakan adalah antara penghormatan terhadap hak perempuan dengan pengaburan nilai moral. Perempuan memang bukan objek yang boleh diatur secara sewenang-wenang, tetapi perempuan juga tidak dimuliakan dengan cara didorong untuk menormalisasi perilaku yang merusak rasa malu, merendahkan harga diri, dan melemahkan sendi moral masyarakat. Ketika batas-batas kepantasan diruntuhkan atas nama emansipasi, sesungguhnya yang terjadi bukan kemajuan, melainkan kemunduran peradaban. Sebab masyarakat yang sehat tidak dibangun dengan menghapus kehormatan, tetapi dengan memuliakannya.

Di sinilah gagasan tentang perempuan berdaya perlu dikembalikan pada makna yang lebih utuh. Perempuan berdaya bukan hanya perempuan yang menghasilkan uang, memiliki jabatan, atau tampil di ruang-ruang publik. Perempuan berdaya adalah perempuan yang memiliki ilmu, kematangan berpikir, kehormatan diri, dan kemampuan menempatkan prioritas hidup secara sadar. Ia bisa berkarya di luar rumah, tetapi tidak merasa rendah bila memilih memuliakan rumahnya. Ia bisa aktif di masyarakat, tetapi tidak menganggap pengasuhan anak sebagai tugas kelas dua. Ia bisa cerdas, mandiri, dan tegas, tanpa harus memusuhi perannya sebagai ibu, istri, dan pendidik generasi.

Dalam perspektif ini, rumah bukanlah tempat sempit yang harus selalu ditinggalkan demi dianggap maju. Rumah adalah salah satu pusat peradaban. Dari rumah lahir kebiasaan, adab, kepekaan, daya tahan jiwa, dan pandangan hidup anak-anak. Dari rumah pula seorang ibu sering menunaikan tugas yang sangat besar, meski tidak selalu diakui oleh statistik ekonomi. Maka, ketika perempuan memilih hadir secara bermakna dalam keluarganya, itu bukan tanda kemunduran. Justru bisa jadi di situlah ia sedang menjalankan salah satu bentuk kepemimpinan paling mendasar dalam peradaban.

Memaknai perjuangan Kartini secara lebih objektif, berarti menolak dua ekstrem sekaligus. Di satu sisi, kita menolak budaya lama yang merendahkan perempuan, membatasi akses ilmunya, dan menempatkannya semata sebagai pelengkap. Di sisi lain, kita juga menolak wacana modern yang pada dasarnya meremehkan rumah, keibuan, dan pengasuhan, lalu memaksa semua perempuan masuk ke satu definisi sukses yang seragam. Kartini tidak layak dijadikan simbol untuk membenarkan salah satu ekstrem itu. Ia lebih pantas dibaca sebagai pelopor pemuliaan perempuan, yaitu perempuan yang terdidik, bermartabat, dan berperan penting dalam membangun masyarakat.

Karena itu, memperingati Kartini semestinya bukan cuman mengenang sosok bersejarah, tetapi juga soal meluruskan cara pandang kita hari ini. Yang perlu kita lanjutkan dari Kartini bukan sekadar slogan emansipasi, melainkan semangat untuk memuliakan perempuan melalui ilmu, akal budi, dan penghormatan terhadap perannya yang utuh. Sebab perempuan tidak menjadi berharga karena ia menjauh dari rumah, dan tidak pula menjadi mulia hanya karena ia tampil di ruang publik. Perempuan dimuliakan ketika martabatnya dijaga, ilmunya ditinggikan, dan peran besarnya dalam keluarga maupun masyarakat dihormati dengan adil. Seperti itulah seharusnya para wanita melihat perjuangan Kartini. (*)